Selasa, 31 Juli 2012
gaji 13 online
PERHATIAN : 1. Inginkah anda memiliki satu pekerjaan utama atau tambahan yang bisa
menghasilkan 1 hingga 3 juta rupiah perminggu ???
2. Bisa di lakukan di rumah, kantor, warnet dan sama sekali
tidak mengganggu waktu produktif anda yang lain ???
Selamat, karena anda akan segera menemukannya sebentar lagi...
Silakan baca dahulu dan pahami dengan sebaik-baiknya...
Menjadi PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) memang tidak pernah sepi peminat. Dalam berbagai bidang, aparat pemerintah yang bernama Pegawai Negeri Sipil alias PNS selalu kebanjiran pendaftar. Hal ini tidak lain, karena menjadi PNS status sosialnya sedikit lebih baik dari yang lainnya ( Kalau anda PNS coba rasakan sendiri ). Gajinya pun macam-macam: ada tunjangan pokok, tunjangan keluarga, gaji ke-13, tunjangan jabatan, tunjangan fungsional, tunjangan umum, sertifikasi dan banyak lagi tunjangan-tunjangan lainnya. Selain itu, PNS hampir secara rutin mendapat kenaikan gaji setiap tahunnya.
Jika kita berbicara Gaji ke-13 dan itu sudah merupakan bukan hal yang asing lagi didengar. Rata-rata PNS banyak yang menunggu mendapatkan gaji ke-13 mereka, lantaran bisa dibilang cukup besar.
“Semoga saja cepat cair, sebab saya sangat membutuhkannya,” ujar seorang PNS yang sedang mendaftarkan anaknya masuk sekolah.
Kebijakan pemerintah untuk memberikan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok disambut suka cita para PNS.
Betapa tidak, setelah sekian lama menunggu, harapan untuk memperbaiki kehidupan pelan-pelan menjadi kenyataan.
Nah…..lalu bagaimana dengan orang-orang yang status nya saat ini bukan PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) ???
Inginkah anda mendapatkan " Fasilitas Gaji " sebagaimana yang di dapat para PNS ???
Oke deh…di sini kita akan membahas bagaimana Anda yang statusnya bukan PNS tapi juga bisa mendapatkan Gaji 13 seperti yang diterima para PNS umumnya. Bahkan bisa lebih besar dan tidak perlu menunggu setahun sekali, bisa per bulan, per minggu, atau bahkan per jam ???
Gimana bisa…???
Di GAJI 13 ONLINE ini anda akan segera menemukan jawabannya, karena kami akan memberikan secara gratis rahasia bagaimana anda akan di gaji 50 ribu hingga 350 ribu rupiah per job hanya dengan metode
" Internet Online Job ". Satu metode kerja online yang sudah terbukti membantu finansial banyak orang
sehingga anda bisa menjalani masa depan dengan lebih mudah...
Saat anda memulai membaca ini...
Setiap hari team kerja banyak menerima ucapan terima kasih dari teman-teman lain dari seluruh Indonesia
( Pelajar, Mahasiswa, Pegawai Bank, PNS hingga Ibu rumah tangga )
yang sudah memulai karier mereka dengan bekerja online
di GAJI 13 ONLINE ini dan sudah pula di bayar gajinya.
Bahkan ada yang bisa dapat hingga jutaan rupiah per minggu !
GAJI 13 ONLINE ini akan lebih Booming karena mereka sudah Membuktikannya...!!!
Apa sih GAJI 13 ONLINE....????
GAJI 13 ONLINE adalah Gaji Extra untuk seorang yang bekerja online untuk pribadi dimana antara pekerja online satu dengan yang lain tidak berada di satu lokasi yang sama dan di jalankan melalui jaringan internet/ online.
Dan nantinya disebut sebagai " Freelance " Dan itulah yang akan anda lakukan di GAJI 13 ONLINE !
Picture
Picture
Picture
Metode kerja GAJI 13 ONLINE ini di adopsi dari sebuah Perusahaan Internet Online terkemuka yang berlokasi di KANADA. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang telah mendapatkan sertifikat resmi sebagai member kebanggaan dari www.directfraud.com sebagai perusahaan internet yang berkualitas dan terpercaya, disamping itu juga member dari the Web Chamber of Commerce dan juga telah bersertifikat resmi dari the Internet Bureau of Trust ( Inc ),
The Scam Free Zone and Direct Fraud Prevention Systems.
Lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu Perusahaan Internet Online Independent yang diantaranya
menangani kasus penipuan via internet dari perusahaan yang tidak bertanggung jawab dengan anggota di seluruh dunia dan juga mempromosikan peluang bisnis internet yang penuh Integritas, Fair, Jujur dan mendedikasikannya untuk mewujudkan " Internet Marketplace " yang aman untuk pengguna internet di seluruh dunia.
Lembaga tersebut juga sebagai wadah keluhan/ komplain dan aduan bagi netter yang telah tertipu/ SCAM oleh suatu program peluang bisnis yang tidak fair di internet.
Sistem kerjanya, simpel saja seperti ini tahapannya :
Anda Melakukan Pengajuan dan Permohonan Berkas ( Freelance Namun Terikat Dengan Peraturan Kerja )
Buat rekomendasi kerja, Gratis.
Meminta pekerjaan atau job internet online ke akun anda.
Mengerjakan job anda atau tugas internet online anda.
Mengirim kembali tugas anda, namun sebelumnya jangan lupa periksa dan koreksi dahulu.
Dapatkan gajinya sore atau malam hari, maksimal 2 hari jika terjadi error trouble.
Dan GAJI 13 ONLINE Anda akan segera cair....
Picture
Picture
Picture
Untuk penerimaan GAJI 13 ONLINE anda bisa via :
Transfer langsung ke Bank Nasional Rekening anda ( BCA, MANDIRI, BRI, BNI, dll )
Wesel Pos
Western Union
4. Paypal ( jika anda menerima job dari luar )
Penting : Bank yang bisa menerima adalah Mandiri, BRI, BNI, BCA, Dll.
Picture
Apakah anda sudah siap untuk bekerja dan mandiri... ???
Silakan anda pertimbangkan dahulu, jangan terburu-buru untuk mengambil pekerjaan di GAJI 13 ONLINE ini.
Kami tidak sedang mencari member, info ini hanya untuk mereka yang benar-benar siap dan mau bekerja saja.
Tujuan kami hanya berbagi informasi. Dan ingat, ini bukan MLM, bukan bisnis online, bukan entri data, bukan affiliasi,
bukan Smart Machine System yang harus beli domain dan hosting,
bukan SMUO ( Sistem mesin uang otomatis ) yang harus membuat e-book dan sebagainya.
Pekerjaan ini sangat menyenangkan kenapa ...???
1. GAJI 13 ONLINE adalah Gaji Plus untuk anda
2. Tidak memakan waktu, anda bisa bebas memilih dan menentukan waktu kerja.
3. Tidak melelahkan, santai dan tidak mengganggu waktu produktif anda yang lain.
4. Tidak banyak mengeluarkan ongkos atau biaya, awalnya bisa di warnet hingga nanti punya laptop sendiri
5. Hasilnya pasti jauh lebih memuaskan.
6. Bisa menjadi tambahan income untuk anda dan keluarga.
Nah sekarang tergantung dari anda mau bekerja atau tidak, tapi jangan memaksakan diri.
Jika sudah siap bekerja silakan melakukan Permohonan berkas kerjanya .
Karena banyaknya sharing dan permintaan dari rekan-rekan yang lain bahkan dari seluruh Indonesia !
Dan akhirnya atas keputusan bersama Team kerja GAJI 13 ONLINE, informasi ini kami bagikan GRATIS secara online hingga sekarang sampai ke tangan anda. Sekarang keputusan ada di tangan anda, mau bekerja atau tidak.
Kami akan berikan semuanya kepada anda yang benar-benar berminat saja, berkas kerja komplit akan kami kirim ke email anda, serta peraturan yang ada dalam bentuk susunan Bahasa Indonesia yang sudah teratur tata bahasanya.
Jika anda berminat dan benar-benar ingin mengajukan Berkas GAJI 13 ONLINE silakan :.....
Picture
Picture
KETIK : Nama Anda/Alamat Lengkap/No.HP/Alamat Email Valid
Dengan Subjek/ Judul : " Permohonan berkas GAJI 13 ONLINE "
( Data Anda dijamin Aman dan terjaga kerahasiaannya )
Kirim ke Email : gaji13online@gmail.com
( Mohon di isi dengan data anda yang sesungguhnya )
STAF dan TEAM GAJI 13 ONLINE :
Website : http://www.gaji13online.weebly.com
Email : gaji13online@gmail.com
Kontak kami : 081256573005 dan 087819039096
Picture
Catatan di GAJI 13 ONLINE :
1. Sangat di sukai dan di lakukan oleh para Netter di USA, Eropa dan Asia
2. Bukan MLM ( Multi Level Marketing ) dan atau sejenisnya
3. Bukan Smart Machine System
4. Bukan ( gogonai dan excenza )
5. Bukan bisnis online
6. Bukan Money Game
7. Bukan entri data seperti uangreceh.com atau sejenisnya
8. Bukan PTC atau PPL
9. Bukan Arisan Berantai
10. Ini seperti orang kerja di dunia nyata
Maaf, tujuan kami bukan sedang mencari downline atau member !
Jadi jika anda belum yakin atau belum siap bekerja, lupakan saja semuanya,
karena informasi ini sangat berharga dan kami pun tidak merasa di rugikan.
Hasil anda di GAJI 13 ONLINE adalah 100% milik anda.
Satu jenis tugas/ job bernilai antara 50 ribu hingga 350 ribu, silakan anda hitung sendiri berapa gaji
yang bisa anda hasilkan dalam sehari. Jika dalam sehari anda dapat 5 tugas/ job sukses maka gaji cash
sudah di tangan anda hari ini juga.
Kalau anda bisa ngetik dan baca dengan benar, maka pasti tidak ada pekerjaan yang salah.
GAJI 13 ONLINE anda akan segera cair per bulan, per minggu, per hari, atau bahkan per jam !!!
Picture
Picture
KETIK : Nama Anda/Alamat Lengkap/No.HP/Alamat Email Valid
Dengan Subjek/ Judul : " Permohonan berkas GAJI 13 ONLINE "
( Data Anda dijamin Aman dan terjaga kerahasiaannya )
Kirim ke Email : gaji13online@gmail.com
( Mohon di isi dengan data anda yang sesungguhnya )
STAF dan TEAM GAJI 13 ONLINE :
Website : http://www.gaji13online.weebly.com
Email : gaji13online@gmail.com
Kontak kami : 081256573005 dan 087819039096
Picture
Salam Sukses Berkelimpahan !!!
100 % Pasti !!!
Picture
Dari meja Team Kerja GAJI 13 ONLINE,
gaji13online@gmail.com
Tukar Link Gratis - Free links Exchange
Sarana Pertukaran Banner Antar Netter GRATIS JOIN klik di SINI
Promosi Tercanggih - Arenapromo.com Jaringan Pertukaran Link Gratis
UPAYA PENINGKATAN KEEFEKTIFAN DAN EFISIENSI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SISWA KELAS XI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, salah satu tujuan pembelaaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dalam bentuk lisan maupun tertulis. Kemampuan berkomunikasi ini meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Keempat kompetensi ini diharapkan mampu mempersiapkan dan membekali siswa SMA untuk melanjutkan ke enjang pendidikan yang lebih tinggi atau untuk memasuki dunia kerja terutama di sektor yangmembutuhkan keterampilan berbahasa Inggris.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Inggris seperti yang tercantum dalam kurikulum, semua komponen yang terlibat dalam proses belaar mengajar di sekolah harus turut memberikan dukungan. Dengan memperhatikan bahwa setiap kelas mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, komponen-komponen yang terkait tersebut harus berupaya meningkatkan keefektifan dan efisiensi proses belajar mengajar di kelas sesuai dengan karakteristik masing-masing kelas.
Secara umum, tidak semua sekolah dapat dengan mudah mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Inggris sesuai dengan yang tercantum dalam kurikulum. Masing-masing sekolah menemui kendala yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan memperhatikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan solusi yang diperlukan untuk mengatasinya, maka peneliti berpikir bahwa perlu ada upaya untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi dalam pembelajaran Bahasa Inggris di setiap sekolah. berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya-upaya ini pun bisa diterapkan di SMA Negeri 1 Sewon, Bantul.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas XI SMA Negeri 1 Sewon, Bantul dengan menggunakan langkah-langkah penelitian tindakan (action research). Untuk langkah pertama, peneliti akan terlebih dahulu mengidentifikasi masalah-masalah yang mengganggu proses pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah ini.
B. Identifikasi Masalah
Ada beberapa faktor yang turut berperan dalam upaya peningkatan keefektifan pembelajaran Bahasa Inggris di kelas XI SMA Negeri 1 Sewon, Bantul. Faktor-faktor tersebut adalah: guru, siswa, materi yang diajarkan, teknik penyampaian materi, waktu, dan fasilitas yang tersedia. Sedangkan efisiensi berhubungan dengan semua faktor yang ada selama proses belajar mengajar. Selain berhubungan dengan faktor-faktor yang terlibat dalam proses belajar mengajar, pembelajaran Bahasa Inggris juga berhubungan dengan empat macam keterampilan bahasa yaitu listening, speaking, reading, dan writing.
Untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi pembelajaran Bahasa Inggris, faktor-faktor di atas (guru, siswa, materi yang diajarka, teknik penyampaian materi, waktu, dan fasilitas yang tersedia) berhubungan dengan keempat keterampilan bahasa tersebut. Dari sudut pandang guru, keefektifan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh penguasaan guru tentang grammar, kosakata, dan konteks wacana. Selain itu juga berhubungan dengan materi yang akan diajarkan. Pembelajaran yang efektif juga dipengaruhi oleh teknik mengajar guru. Biasanya, siswa akan merasa bosan jika harus mengerjakan kegiatan yang sama terus-menerus. Perasaan seperti ini akan menguarangi konsentrasi siswa sehingga mereka tidak akan menangkap materi dengan baik.
Effective reading tampaknya akan berpengaruh pada effective writing. Sebagai keterampilan reseptif, reading memberikan stimulus pada writing (keterampilan produktif). Keefektifan pembelajaran reading dan writing dari sudut pandang guru kemungkinan akan memberikan hasil yang optimal jika guru menggunakan potensinya secara efisien. Efisiensi pembelajaran reading juga dipengaruhi oleh penggunaan fasilitas yang tersedia. Penggunaan fasilitas yang tersedia secara optimal akan membantu siswa dalam memahami materi yang diajarkan dan memberikan pengetahuan serta gagasan untuk dikembangkan dalam writing. Biasanya siswa akan menemukan gagasan ketika mereka menghubungkan pembelajaran bahasa dengan kondisi di sekelilingnya.
Keterampilan bahasa yang lain yaitu listening dan speaking. Dari sudut pandang guru, effectif listening berkaitan dengan penguasaan guru terhadap grammar, kosakata, dan pronunciation. Mereka yang menguasai ketiga faktor tersebut akan dapat memahami pembicaraan orang lain dengan mudah. Guru adalah sumber pengetahuan di kelas, oleh karena itu kompetensi yang dimilikinya uga akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar.
Pembelajaran listening yang efektif akan berpengaruh positif terhadap speaking karena keberhasilan dalam listening membuat pembelajarn speaking lebih mudah. Keefektifan ini juga tergantung pada informasi yang disampaikan guru terhadap siswa. Praktik berbahasa Inggris di dalam kelas akan membentu siswa mengekspresikan gagasannya dalam bahasa Inggris. Pembelajaran listening dan speaking akan lebih efisien jika guru memberikan masalah-masalah untuk didiskusikan. Dalam diskusi ini, beberapa siswa mempraktikkan listening dan yang lainnya mempraktikkan speaking. Jadi, pembelajaran listening dan speaking ini bisa dilakukan secara terpadu.
Keefektifan dan efisiensi dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris tidak hanya dilihat dari sudut pandang guru saja, karena proses belajar mengajar juga berhubungan dengan faktor-faktor yang lain. Jika dilihat dari sudut pandang siswa, pembelajaran reading tergantung pada kebutuhan siswa untuk membaca. Kebutuhan itu bisa saja dilakukan untuk melakukan kegiatan tertentu, seperti menjawab pertanyaan dulu kemudian baru membeca materi. Jadi, mereka bisa menemukan apa yang mereka butuhkan dengan mudah.
Jika dilihat dari sudut pandang siswa, keefektifan dalam pembelajaran listening bergantung pada konsentrasi mereka selama proses belajar mengajar, penguasaan kosakata, dan pronunciation. Seperti pada reading, agar pembelajaran listening lebih efektif maka siswa harus terlebih dahulu mengetahui kebutuhannya, sehingga mereka tahu apa yang harus mereka dengarkan.
Keefektifan dalam pembelajaran speaking berhubungan dengan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa yang aktif akan memperoleh lebih banyak kesempatan untuk mengungkapkan gagasannya sehingga akan lebih lancar berbicara dalam bahasa Inggris. Selain dipengaruhi oleh peran siswa di dalam kelas, proses belajar mengajar juga dipengaruhi oleh penggunaan fasilitas yang tersedia. Penggunaan fasilitas pembelajaran secara optimal akan sangat membantu proses belajar mengajar Bahasa Inggris.
Jika dilihat dari sudut pandang materi yang diajarkan, keefektifan pembelajaran reading berhubungan dengan tingkat kesulitan materi. Materi yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari akan lebih efektif karena sudah akrab dengan siswa, sehingga mereka akan lebih mudah memahami materi tersebut.
Dalam pembelajaran writing, keefektifan berhubungan dengan fase-fase dalam menggunakan materi yang diperoleh. Misalnya, proses belajar mengajar dimulai dari pembelajaran kata dalam kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf yang baik, dan menyusun paragraf menjadi teks. Pemberian materi secara tepat akan memberikan hasil yang optimal. Selain itu, faktor lain yang turut berpengaruh adalah penggunaan waktu dan tenaga secara efisien. Efisiensi dalam penggunaan waktu dan tenaga akan membantu siswa dalam menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dalam writing.
Berhubungan dengan materi yang diajarkan, keefektifan pembelajaran listening dipengaruhi oleh keautentikan materi tersebut. Siswa akan lebih mudah memahami materi yang berhubungan dengan masalah-masalah yang sering mereka dengar, misalnya berita dari televisi atau radio, prakiraan cuaca, instruksi, pengumuman, lagu, dan sebagainya. Selain dipengaruhi oleh pembicara yang mereka dengarkan, apakah pembicara itu penutur asli atau bukan, efisiensi dapat dicapai melalui penggunaan fasilitas seperti laboratorium bahasa dan tape recorder.
Keautentikan materi juga berpengaruh pada keefeektifan pembelajaran speaking. Siswa akan lebih mudah mengekspresikan masalah-masalah yangsering mereka hadapi dalam kehidupannya. Dalam mengungkapkan masalah-masalah itu, siswa akan melibatkan pikiran dan perasannya sehingga komunikasi yang dilakukan akan tampak natural. Efisiensi dalam speaking berhubungan dengan level siswa. Siswa dibagi dalam tiga level, yaitu beginner (pemula), intermediate, dan advanced. Bagi pemula, akan lebih efektif dan efisien jika diberikan materi yang sederhana dulu kemudian baru materi yang lebih kompleks.
Berhubungan dengan teknik yang dipakai dalam proses belajar mengajar, pembelajaran reading berhubungan dengan mikro skills: scanning, skimming, explicit dan implicit reading, menarik kesimpulan dari konteks, dan membaca untuk hiburan. Keefektifan berhubungan dengan mikro skills yang terlibat. Penggunaan teknik yang bervariasi dalam pembelajaran akan mengurangi kebosanan siswa. Selain itu, efisiensi juga berhubungan dengan karakteristik kelas. Misalnya untuk kelas yang pasif, explicit reading dan membaca untuk hiburan akan lebih sesuai.
Pembelajaran listening dapat dilakukan dengan berbagai teknik, misalnya mendengarkan tape recorder, menjawab pertanyaan berdasarkan teks, menulis ulang lagu, mendengarkan radio dan televisi, dan sebagainya. Keefektifan berhubungan dengan pemilihan teknik yang tepat untuk kelas tertentu. Sedangkan efisiensi berhubungan dengan penggunaan fasilitas yang tersedia.
Keefektifan dalam pembelajaran speaking berkaitan dengan kegiatan siswa selama proses belajar mengajar, apakah mereka aktif atau tidak. Salah satu upaya untuk mendorong siswa menjadi aktif adalah dengan menggunakan information gap. Caranya dengan membagi kelas menjadi dua kelompok. Kelompok A mendapatkan informasi yang tidak diketahui oleh kelompok B, dan sebaliknya. Dengan cara ini akan terjadi komunikasi antara kelompok A dan B secara alami. Untuk memperoleh hasil yang optimal, proses ini harus efisien. Dalam hal ini efisiensi berhubungan dengan topik, apakah topik itu menarik atau tidak.
Berhubungan dengan waktu dan tempat yang tepat untuk proses belajar mengajar, tidak ada perbedaan antara reading, listening, speaking, dan writing. Keefektifan dan efisiensi tergantung pada tingkat kesulitan materi. Misalnya, reading dan writing membutuhkan banyak konsentrasi, oleh karena itu akan lebih efektif jika dilakukan pada pagi hari. Sedangkan untuk pembelajaran listening dan speaking dapat dilakukan pada siang hari.
Keefektifan dan efisiensi berhubungan dengan tempat yang sesuai untuk proses belajar mengajar listening, speaking, reading, dan writing berkaitan dengan ketersediaan media di dalam kelas. Misalnya, pembelajaran reading, speaking, dan writing dapat dilakukan di dalam kelas. Tetapi, pembelajaran listening akan lebih efektif dan efisien jika dilakukan di laboratorium bahasa, karena disana tersedia peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran seperti tape recorder, kaset, dan sebagainya.
Penelitian ini dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris pada kelas XI
ANALISIS KINERJA BIROKRASI PEMERINTAH
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan paradigma studi ilmu administrasi negara sangat cepat dan mengikuti perubahan lingkungan yang mempengaruhinya. Seperti studi yang sistematis yang dilakukan oleh Nicholas Henry (1995) yang mengelompokkan paradigma administrasi negara atas; (a) dikhotami politik administrasi, (b) paradigma prinsip-prinsip administrasi negara, (c) paradigma administrasi negara sebagai ilmu politik, (d) paradigma administrasi negara sebagai ilmu administrasi, dan (e) paradigma administrasi negara sebagai ilmu administrasi negara sampai pada tahun 1970. Setelah tahun 1970, paradigma administrasi negara berkembang menjadi paradigma administrasi pembangunan (J.B Kritiadi:1997). Dalam paradigma ini peran pemerintah dalam pembangunan negara-negara berkembang sangatlah besar. Oleh karena itu menurut Abdullah (1984) peran administrasi pembangunan dalam proses pembangunan adalah sebagai ”Agen of Change”. Hal ini berarti proses perencanaan, perumusan kebijaksanaan, implementasi dan pengendalian pelaksanaan pembangunan semuanya dilakukan oleh pemerintah.
Studi yang dilakukan oleh David Osborne dan Gaebler (1992) menggugat tesis tersebut, bahwa pemerintah tidaklah cukup mampu untuk melakukan sendiri kegiatan sektor publik; pemerintah tidak memiliki cukup biaya untuk membiayai kegiatan sektor publik. Oleh karena itu keterlibatan unsur swasta, masyarakat dan kelembagaan masyarakat lainya dalam menyelenggarakan sektor publik merupakan pilihan tepat untuk menciptakan efisiensi, efektifitas, pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Dari sinilah peran pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan sektor publik berubah, dimana tidak hanya pemerintah yang terlibat dalam proses pembangunan, tetapi pihak swasta, kelembagaan masyarakat dan LSM merupakan tiga pilar utama yang harus berperan aktif dalam melakukan proses pembangunan.
Salah satu fungsi pemerintah yang utama adalah menyelenggarakan pelayanan umum sebagai wujud dari tugas umum pemerintahan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Birokrasi merupakan instrumen pemerintah untuk mewujudkan pelayanan publik yang efisien, efektif, berkeadilan, transparan dan akuntabel. Hal ini berarti bahwa untuk mampu melaksanakan fungsi pemerintah dengan baik maka organisasi birokrasi harus profesional, tanggap, aspiratif terhadap berbagai tuntutan masyarakat yang dilayani. Seiring dengan hal tersebut pembinaan aparatur negara dilakukan secara terus menerus, agar dapat menjadi alat yang efisien dan efektif, bersih dan berwibawa, sehingga mampu menjalankan tugas-tugas umum pemerintah maupun untuk menggerakkan pembangunan secara lancar dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian terhadap masyarakat.
Seiring dengan hal tersebut Abdullah (1984) mengatakan bahwa determinan penting untuk meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah adalah dibutuhkan ”Infra-Struktur Admnistrasi” yang memiliki kesiapan dan ketangguhan pada semua tingkatan dan tahapan yang meliputi : (a) organisasi pelaksana yang berintikan birokrasi yang mantap dan tangguh; (b) sistem administrasi atau tata laksana yang efektif dan efisien; dan (c) susunan aparatur atau personalia yang berkemampuan tinggi dari segi profesional, orientasional yang disertai rasas dedikasi yang tinggi. Hal ini berarti bahwa kinerja birokrasi pemerintah dalam merencanakan, mengimplementasikan dan evaluasi serta pengendalian proses pembangunan dan pelayanan masyarakat sangat ditentukan oleh faktor kelembagaan, ketatalaksanaan, sumber daya manusia, aparatur dan dukungan sarana dan prasarana yang tersedia.
Sorotan tajam tentang kinerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik menjadi wacana yang aktual dalam studi administrasi negara akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan dan pada sisi lain munculnya konsep privatisasi, swastanisasi, kontak kerja yang pada intinya ingin meminimalkan campur tangan pemerintah yang terlalu besar dalam pelayanan publik (Savas, 1983, Osborne, 1992).
Studi yang dilakukan oleh Savas (1983), LAN Jawa Barat (1999) menunjukkan bahwa kinerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik lebih rendah ketimbang yang dilakukan oleh pihak swasta atau kelembagaan masyarakat lainnya. Bahkan Savas mengatakan bahwa tugas pemerintah adalah mengarahkan bukan mengayuh perahu. Memberikan pelayanan adalah mengayuh dan pemerintah tidaklah pandai mengayuh.
Di kalangan masyarakat masih terdapat keluhan berbagai pelayanan pemerintah (birokrasi) bahkan pameo masyarakat mengatakan bahwa kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah dan bila ada pilihan lain untuk mendapat KTP selain dari Kantor Kelurahan dan Kantor Kecamatan, maka saya akan memilih ke Supermaket karena disana pegawainya ramah, suka senyum, menanyakan apa yang dapat dibantu. Sebaliknya kalau anggota warga masyarakat ke kantor Kelurahan atau Kecamatan sangat paradoksal dengan apa yang terjadi di Supermaket untuk mendapat pelayanan (Zanapiha, 1999).
Selama ini seperti yang diakui oleh Moestopadidjaja (1997) bahwa pelayanan publik oleh birokrasi cenderung dipersulit, prosedur berbelit-belit, rendahnya ketidakpastian waktu pelayanan. Gejala ini oleh Bryant dan White (1987) sebagai suatu gejala ketidak mampuan administratif, umumnya terjadi di Negara-negara sedang berkembang.
Penilaian kinerja birokrat pemerintah selama ini cenderung didasarkan pada faktor-faktor input seperti jumlah pegawai, anggaran, peraturan perundangan dan termasuk pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan; dan bukan pada faktor-faktor output atau outcomes-nya, misalnya tingkat efisiensi biaya, kualitas layanan, jangkauan dan manfaat pelayanan yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu dalam praktek penyelenggaraan pelayanan publik masih terdapat berbagai masalah antara lain perbedaan antara kinerja yang diharapkan (intended perfomance) dengan praktek sehari-hari (actual perfomance), perbedaan antara tuntutan kebutuhan masyarakat dengan kemampuan pelayanan aparatur pemerintah, perbedaan antara keterbatasan sumber daya anggaran pemerintah dengan kebocoran pada tingkat pelaksanaanya (LAN Jawa Barat, (1999). Studi lainnya dilakukan oleh Hardjo Soekarto (1999) menunjukkan bahwa pelayanan publik selama ini masih menunjukkan mental model birokrat sebagai yang di layani oleh masyarakat, bukan justru sebaliknya aparat yang harus melayani masyarakat. Hal ini terjadi karena pendekatan kekuasaan birokrasi lebih dominan ketimbang keberadaan aparatur sebagai pelayan masyarakat. Kekuasaan birokrat sangat kuat sekali dan bahkan tak ada organisasi sosial kemasyarakatan yang mampu mengontrolnya sehingga praktek penyelenggaraan pelayanan publik selama ini yang menjadi beban masyarakat dan birokrat cenderunng melakukan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Mohammad, 1999).
Sementara itu peran aparatur negara (birokrasi) sejak beberapa dekade yang lalu lebih disiarkan sebagai penyandang dua peran yaitu sebagai Abdi Negara dan sebagai Abdi masyarakat dan peran sebagai abdi negara menjadi sangat dominan ketimbang peran sebagai abdi masyarakat. Siklus pelayanan lebih berakses ke kekuasaan birokrasi ketimbang melayani masyarakat. Akibatnya aparatur cenderung melayani dirinya sendiri dan meminta layanan dari masyarakat (Thoha, 1993, Idrus, 1995). Berkaitan dengan hal ini Kaufman (1976) mengatakan bahwa tugas aparatur sebagai pelayan harus lebih diutamakan terutama yang berkaitan dengan mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan masyarakat, mempersingkat waktu proses pelaksanaan urusan publik dan memberikan kepuasan publik.
Berdasarkan studi yang dilakukan LAN Sulsel (1997) menunjukkan bahwa pelayanan aparat birokrat terhadap masyarakat/ dunia usaha masih menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya 4.396 jenis pungutan yang dilakukan aparatur mulai dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Dari jumlah pungutan tersebut, sekitar 27% dari total biaya produksi dialokasikan untuk memperoleh pelayanan aparatur. Hal ini menunjukkan birokrat menjadi penghambat bagi tumbuhnya daya asing masyarakat itu sendiri.
Tjokroamidjojo (1988) mengidentifikasi ada empat faktor besar yang menghambat efisiensi administrasi negara (birokrasi), yaitu : (1) kecenderungan membengkaknya birokrasi baik dalam arti struktur maupun luasnya campur tangan terhadap kehidupan masyarakat, (2) lemahnya kemampuan manajemen pembangunan baik dalam perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, dan pengawasan, dan (3) rendahnya produktivitas pegawai negeri. Sementara Siagian (1987), mengidentifikasikan ada tiga jenis kelemahan yang melekat pada pegawai negeri (birokrat) kita, adalah (1) kemampuan manajerial, yaitu kurangnya kemampuan memimpin, menggerakkan bawahan, melakukan koordinasi dan mengambila keputusan, (2) kemampuan teknis, yaitu kurangnya kemampuan untuk secara terampil melakukan tugas-tugas, baik yang bersifat rutin, maupun yang bersifat pembangunan, dan (3) kemampuan teknologis, yaitu kurangnya kemampuan untuk memanfaatkan hasil-hasil penemuan teknologi dalam pelaksanaan tugas.
Penelitian LAN Perwakilan Sulawesi Selatan (2000) tentang tingkat kemampuan tenaga perencana Pembangunan di Kawasan Timur Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan tenaga perencana pembangunan masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya iklim organisasi yang mendukung berkembangnya kemampuan pegawai, tak ada kebijakan tentang jabatan fungsional perencana dan rendahnya penghargaan pemerintah terhadap jabatan tersebut sehingga motivasi tenaga perencana untuk mengembangkan diri masih rendah. Studi lain adalah yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa profesionalisme pegawai rendah, baik dilihat dari tingkat pendidika, pengalaman, produktivitas kerja, ataupun disiplin kerja terbukti rendah (PPK-UGM, 1991/1992:2). Penelitian yang sama oleh FISIPOL-UGM pada kantor Bappeda di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Lombok menemukan bahwa penampilan Bappeda sangat dipengaruhi oleh para aparatnya dalam menjalankan fungsi-fungsi perencanaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi; juga oleh tingkat profesionalisme pegawai, organisasi dan mutu kepemimpinan dalam lembaganya (FISIPOL-UGM, 1991:4).
Studi empiris lain yang berkaitan dengan kinerja organisasi pemerintah dilihat dari pendekatan proses misalnya penelitian yang dilakukan oleh Baddu (1994), suatu analisis tentang prestasi kerja dan hubungannya dengan kepuasaan dan semangat kerja pada Kantor Setwilda Tk. I Sul-Sel, penelitian yang dilakukan oleh Thahir, M.M. (1997), suatu analisis tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja pegawai pada kantor Kopertis Wilayah IX Ujung Pandang.
Beberapa penelitian empiris di atas baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang dilakukan oleh kalangan akademik menunjukkan bahwa penelitian tentang kinerja birokrasi pemerintah dilihat dari sudut pendekatan proses masih bersifat parsial, yaitu hanya berkaitan dengan analisis pada tingkat individu pegawai, tetapi belum melihat secara komprehensif dari sudut kinerja birokrasi pemerintah secara keseluruhan.
Semua ini menunjukkan bahwa kerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik masih memerlukan kajian yang mendalam dan sungguh-sungguh sehingga peran birokrasi sebagai instrumen masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dapat diwujudkan.
Kasus pelayanan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten khususnya di Kabupaten Bone menarik dikaji terutama yang berkaitan dengan perumusan kebijakan, implementasi, pengendalian dan evaluasi melibatkan birokrat daerah (lokal). Disamping itu pula pelayanan pendidikan ini menyentuh kebutuhan seluruh masyarakat.
Penelitian ini diarahkan untuk mengevaluasi dan menjelaskan fenomena kinerja birokrasi pemerintah kasus pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dengan menggunakan pendekatan proses (internal process approach), terutama memahami dan menjelaskan fenomena dalam hal efisiensi pelayanan, kerja, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan. Variabel kinerja ini penting diteliti karena didasarkan atas alasan bahwa kinerja output yang diberikan kepada lingkungan akan sangat tergantung pada tinggi rendahnya kinerja proses. Hal ini berarti organisasi birokrasi pemerintah tak dapat meningkat kebertanggungjawabannya (accountability), kepercayaan, menciptakan keadilan, efektivitas eksternal dan kepuasan masyarakat sebagai indikator kinerja eksternalnya tanpa memiliki kinerja internal yang baik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kinerja birokrasi pemerintah khususnya berkaitan dengan efesiensi organisasi, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan pada Dinas Pendidikan di Kabupaten Bone ?
2. Faktor apa yang mendukung dan menghambat kinerja birokrasi pemerintah khususnya berkaitan dengan efesiensi pelayanan, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bone ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kinerja birokrasi pemerintahan khususnya berkaitan dengan efesiensi organisasi, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan pada Dinas Pendidikan di Kabupaten Bone
2. Untuk mengetahuai faktor yang mendukung dan menghambat kinerja birokrasi pemerintah khususnya berkaitan dengan efesiensi pelayanan, kerjasama tim, dan hubungan pimpinan dengan bawahan kasus pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bone
D. Manfaat Penelitian
1. Secara akademik; sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang mengkaji kinerja birokrasi pemerintah pada masa yang akan datang .
2. Secara metodologi; penelitian ini memperkaya indikator pengukuran tentang kinerja birokrasi pemerintah khususnya dilihat dalam sudut pandang pendekatan proses.
3. Secara praktis; penelitian ini dapat menjadi bahan untuk evaluasi kinerja instansi Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dalam menyempurnakan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik pada masa datang.
Jenis Penelitian
Jenis Penelitian
Posted in Kuliah FIK by abhecuek on 18 November 2009
Woody (1927) mendefinisikan sebagai berikut:
Suatu metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, merumuskan hipotesis atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan kecocokan dengan hipotesis.
Suatu metode studi melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut (Hilway, 1956).
Pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis terhadap masalah- masalah yang dapat dipecahkan. (Parson, 1946).
Kerjasama ilmiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam rangka memperoleh informasi/temuan/produk baru melalui metodologi yang berkaitan erat dengan satu atau beberapa disiplin ilmu. (Depdiknas RI)
Pencarian fakta menurut metode obyektif yang jelas untuk menemukan hubungan antar fakta dan menghasilkan dalil atau hukum (John, 1949).
Percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru (Nazir, 1988).
Penelitian dikatakan “baik” jika :
• Tujuannya jelas
• Dilakukan dengan hati-hati, cermat dan teliti
• Rancangan metodologi yang cermat dan jelas
• Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji
• Dapat diulang oleh peneliti lain sehingga dapat diuji validitas dan reliabilitasnya
• Memiliki akurasi yang tinggi (dapat diterima)
• Obyektif, kesimpulan berdasarkan fakta
• Konsistensi istilah
• Koherensi : terdapat keterkaitan antar bagian
• Berimbang antara nilai manfaat dengan biaya
Skripsi tesis, dan disertasi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S1), program Magister (S2), dan program Doktor (S3) pada akhir studinya. Yang dimaksud skripsi, tesis, disertasi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Di tinjau dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Peneitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendektatan deduktif – induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangankan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahannya yang diajukan untuk memperolah pembenaran dalam bentuk dukungan empiris di lapangan. Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif) adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.
Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.
Penelitian deskriptif adalah penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain.
Pembagian penelitian:
Berdasarkan hasil / alasan yang diperoleh :
• Basic Research (Penelitian Dasar): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
• Applied Reseach (Penelitian Terapan) : mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
Berdasarkan Bidang yang diteliti:
• Penelitian Sosial: Secara khusus meneliti bidang sosial : ekonomi, pendidikan, hukum dsb;
• Penelitian Eksakta:Secara khusus meneliti bidang eksakta : Kimia, Fisika, Teknik; dsb;
Berdasarkan Tempat Penelitian :
• Field Research (Penelitian Lapangan / Kancah): langsung di lapangan;
• Library Research (Penelitian Kepustakaan) : Dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
• Laboratory Research (Penelitian Laboratorium) : dilaksanakan pada tempat tertentu / lab , biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;
Berdasarkan Teknik yang digunakan :
• Survey Research (Penelitian Survei) : Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti:
• Experimen Research (Penelitian Percobaan) : dilakukan perubahan (ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti;
Berdasarkan Keilmiahan :
• Penelitian Ilmiah : Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah / meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar / tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu :
1. Kemampuan memberikan pengertian ayng jelas tentang masalah yang diteliti:
2. Kemampuan untuk meramalkan : sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat / waktu lain;
Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :
1. Purposiveness : fokus tujuan yang jelas;
2. Rigor : teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
3. Testibility : prosedur pengujian hipotesis jelas
4. Replicability : Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
5. Objectivity : Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
6. Generalizability : Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
7. Precision : Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
8. Parsimony : Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
• Penelitian non ilmiah : Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.
Penelitian secara umum :
• Penelitian Survei:
1. Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
2. Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
3. Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
4. Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
5. Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
6. Penelitian ini dapat berupa :
1. Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
2. Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
3. Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
4. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
5. Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
6. Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
• Grounded Research : Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.
• Studi Kasus : Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian / segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
• Penelitian Eksperimen : Dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu; Untuk pengujian hipotesis tertentu; dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab – akibat variabel penelitian; Konsep dan varaiabelnya harus jelas, pengukuran cermat. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.
Jenis – jenis penelitian dibedakan berdasarkan jenis data yang diperlukan secara umum dibagi menjadi dua: penelitian primer dan penelitian sekunder.
• • Penelitian Primer
Penelitian primer membutuhkan data atau informasi dari sumber pertama, biasanya kita sebut dengan responden. Data atau informasi diperoleh melalui pertanyaan tertulis dengan menggunakan kuesioner atau lisan dengan menggunakan metode wawancara. Yang termasuk dalam kategori ini ialah:
a. Studi Kasus
Studi kasus menggunakan individu atau kelompok sebagai bahan studinya. Biasanya studi kasus bersifat longitudinal
b. Survei:
Survei merupakan studi yang bersifat kuantitatif yang digunakan untuk meneliti gejala suatu kelompok atau perilaku individu. Pada umumnya survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengambil data. Survei menganut aturan pendekatan kuantitatif, yaitu semakin sample besar, semakin hasilnya mencerminkan populasi.
c. Riset Eksperimental
Riset eksperimental menggunakan individu atau kelompok sebagai bahan studi. Pada umumnya riset ini menggunakan dua kelompok atau lebih untuk dijadikan sebagai obyek studinya. Kelompok pertama merupakan kelompok yang diteliti sedang kelompok kedua sebagai kelompok pembanding (control group). Penelitian eksperimental menggunakan desain yang sudah baku, terstruktur dan spesifik.
• • Penelitian Sekunder
Penelitian sekunder menggunakan bahan yang bukan dari sumber pertama sebagai sarana untuk memperoleh data atau informasi untuk menjawab masalah yang diteliti. Penelitian ini juga dikenal dengan penelitian yang menggunakan studi kepustakaan dan yang biasanya digunakan oleh para peneliti yang menganut paham pendekatan kualitatif.
Suharsini Arikunto (1992) membagi jenis-jenis penelitian berdasarkan a) tujuan, b) pendekatan, c) bidang ilmu, d) tempat atau latar, e)kehadiran variable.
• • Penelitian dilihat dari tujuannya:
Jika penelitian dilihat dari tujuannya, maka ada dua sub-jenis penelitian, yaitu penelitian eksploratif, penelitian verifikatif dan pengembangan. Penelitian jenis eksploratif digunakan untuk melakukan pencarian jawaban mengapa muncul kejadian-kejadian tertentu, misalnya munculnya bencana alamdi daerah tertentu terus menerus. Penelitian verifikatif digunakan untuk meneliti ulang hasil penelitian sebelumnya dengan tujuan untuk memverifikasi kebenaran hasil penelitian sebelumnya tersebut. Penelitian pengembangan bertujuan untuk mengembangkan model atau hal-hal yang inovatif. Penelitian jenis ini biasanya dilakukan di suatu perusahaan dalam rangka pengembangan produk atau layanan baru.
• • Penelitian dilihat dari pendekatan:
Dilihat dari pendekatannnya penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu pendekatan longitudinal (bujur) dan cross-sectional (silang). Pendekatan pertama melakukan penelitian berdasarkan pada periode waktu tertentu, biasanya waktunya lama, misalnya seorang peneliti melakukan penelitian perkembangan kemampuan berbicara anak mulai umur 10 bulan s/d 24 bulan. Sebaliknya pendekatan kedua peneliti melakukan studi kemampuan berbicara anak mulai dari yang berumur 10 bulan s/d 24 bulan secara serentak dalam waktu yang bersamaan.
• • Penelitian dilihat dari bidang ilmu:
Dalam persepktif ini maka jenis penelitian dibagi berdasarkan disiplin ilmu masing-masing, misalnya penelitian pendidikan, penelitian teknik, penelitian ekonomi dll.nya.
• • Penelitian dilihat dari tempat / latarnya:
Jika dilihat dari tempat atau latar dimana seorang peneliti melakukan penelitian, maka jenis penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu: a)penelitian laboratorium, b) penelitian lapangan, c) penelitian perpustakaan. Penelitian laboratorium biasanya dilakukan dalam bidang ilmu eksakta, misalnya penelitian kedokteran, elektro, sipil dll.nya. Penelitian lapangan biasanya dilakukan oleh ilmuwan social dan ekonomi dimana lokasi penelitiannya berada di masyarakat atau kelompok manusia tertentu atau objek tertentu sebagai latar dimana peneliti melakukan penelitian. Penelitian perpustakaan dilakukan di perpustakaan dengan melakukan kajian terhadap literature, penelitian sebelumnya, jurnal dan sumber-sumber lainnya yang ada diperpustakaan. Dengan semakin canggihnya teknologi informasi, maka penelitian jenis ini saat ini tidak harus dilakukan di peprustakaan secara fisik, tetapi juga dapat dilakukan dari lokasi mana saja dengan memanfaatkan Internet sebagai media untuk mencari informasi di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia yang membuat data mereka dapat diakses secara langsung oleh pengguna secara gratis dan kapan saja.
• • Penelitian dilihat dari kehadiran variable:
Penelitian dilihat dari kehadiran variable dapat dikategorikan dalam penelitian yang obyeknya merupakan variable masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang. Penelitian yang obyeknya variable masa lalu dan saat ini disebut juga penelitian deskriptif atau mengambarkan variable-variabel yang sedang diteliti. Sedang penelitian yang obyeknya variable yang akan datang, maka variabelnya belum ada tetapi sengaja diciptakan oleh peneliti dengan memberikan perlakuan (treatment). Penelitian jenis ini disebut juga penelitian eksperimen yang tujuannya digunakan untuk mencari hubungan kausal antar variable yang diteliti.
Jenis penelitian yang lain:
• Penelitian teoritis adalah penelitian yang hanya menggunakan penalaran semata untuk memperoleh kesimpulan penelitian. Proses penelitian dapat dimulai dengan menyusun asumsi dan logika berpikir. Dari asumsi dan logika tersebut disusun praduga (konjektur). Praduga dibuktikan atau dijelaskan menjadi tesis dengan jalan menerapkan secara sistematis asumsi dan logika. Salah satu bentuk penerapan asumsi dan logika untuk membentuk konsep guna memecahkan soal adalah membentuk model kuantitatif. Dalam beberapa penelitian teoritis tidak diadakan pengumpulan data.
• Penelitian ekperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu. Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan model kuantitatif.
• Penelitian rekayasa (termasuk penelitian perangkat lunak) adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah.
Langganan:
Komentar (Atom)